Ketuhanan
yang pertama,
Esa tunggal
sifatnya,
Berbeda cara
menyembahnya,
Tapi apa
manusianya jua mendua?
Lagu lama untuk
berbeka,
Tujuan rasa
mungkin sama,
Mengharap ridho dan karuniaNya,
Berbeda selalu
terasa,
Tak tahu aku
nikmat atau laknatNya,
Sengketa menjadi
biasa,
Tanpa peduli
memalang yang lainnya,
Kemanusiaan
lanjutannya,
Tiada darma yang
mendua,
Kemaslahatan
yang utama,
Sejahtera
harapannya,
Tapi apa yang
dibuatnya,
Selisih
paham menyisihkannya,
Rasa kala mebuta
manusia,
Nyaman aman
untuknya,
Tiada peduli
akan sesama,
Merengkuh nikmat
semesta,
Persatuan kini
berganti,
Satu padu
harapan di hati,
Apa daya nyata tak semesti,
Nyata laku
berpenting diri,
Kelompok
primordialku tinggi,
Paksa adat dan
tradisi,
Memagari pagar
toleransi,
Kerakyatan dan
musyawarah,
Wewarah adat
telah mengajarkan,
Mufakat akan
tujuan,
Mengharap
kemaslahatan,
Tapi apa nyata
memaksa asa,
Yang terjarwa
paksa kehendak,
Laksana api
angin mendekat,
Adil makmur
sejahtera,
Sejak sejarah menuliskan
sajaknya,
Tujuan lama tiada
ujung dan akhirnya,
Rela berkorban
akhirnya jadi tumbal,
Kemenangan
kejayaan dirasa-rasa,
Mimpi-mimpi
nyata mewujud hampa,
Entah apa
dosannya,
Di masa yang
lama,
Kebenaran
terbatas sang pencipta,
meemanfaatkan
sang Penguasa,
Hanya sebatas
pengingat sila,
Berbalut sastra
panca,
Elok indah nan
enak didengarnya,
Apapun itu,
Dosa masa lalu,
Semoga berlarut
debu,
---Aji Sura---
